Aku lahir saat ibuku berusia 21 tahun.
Aku toddler yang tumbuh bersama "ibu" yang baru pertama kali jadi orang tua di usia kurang dari 25 tahun.
Aku baru selesai membaca jurnal tentang hubungan pola asuh orang tua dengan temper tantrum pada anak balita atau anak usia dini, serta pengaruh urutan kelahiran anak dengan tantrum pada anak balita.
Ya,
Dahulu saat ibuku belum 25 tahun, aku adalah anak usia dini dengan temper tantrum yang lumayan parah alias tantrum dengan intensitas yang tinggi dan dengan durasi yang cukup lama. Aku menangis kencang dan lama bahkan bisa lebih dari 10 menit. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Menurut ibuku, aku menangis karena tidak mendapatkan apa yang aku ingin, atau enggan melakukan hal yang ibuku minta. Seperti mandi atau makan nasi. Aku bahkan pernah menangis di jalan sepulang sekolah. Saat itu duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. Jadi, Aku sedikit ingat kejadian ini.
Di usia ku yang ke 6 tahun aku masih saja menangis dan berteriak tidak kenal tempat, bahkan hanya sekadar tidak bisa menutup resleting baju.
Aku yang sekarang kadang berpikiran apakah dulu aku normal?
Kenapa aku selalu marah dan menangis?
Bahkan aku kecil dulu sering beranggapan bahwa ibuku galak. Aku tidak suka.
Akhir-akhir ini aku sering mencari tahu apa penyebabnya. Ternyata banyak sekali jurnal dan sumber bacaan lainnya mengenai hal ini. Yang terbaru aku baca adalah regulasi emosi ibu juga sangat berpengaruh dengan tantrum pada anak, pada pola asuh demokratis lebih jarang ditemukan tantrum serta urutan kelahiran juga dapat menjadi faktor penyebabnya. Anak pertama sering kali mengalami temper tantrum yang lebih tinggi dari pada urutan kelahiran lainnya, karena ayah ibunya baru pertama kali menjadi orang tua, belum berpengalaman dan tentu saja belum tahu efek yang terjadi pada anak dengan pola asuh yang dipilihnya.
Ketenangan ibu juga sangat berpengaruh saat terjadinya tantrum pada anak. Karena ketenangan ibu adalah kuncinya, anak akan semakin menjadi-jadi jika ibunya malah marah dan tidak peduli.
Dari bacaan-bacaan tersebut, aku menyimpulkan betapa hebatnya beliau. Dia bahkan tidak lulus SMA, tidak banyak sumber bacaan yang bisa beliau peroleh mengenai permasalahan ini. Bahkan sering kali benar-benar sendirian menghadapi aku yang tantrum. Aku sebut wajar saat dulu beliau pernah diam saja seperti tidak peduli. Karena kalau pun dia merayu aku untuk tenang, aku tetap saja mengamuk.
Aku membayangkan, seusiaku saat ini, yang bahkan masih sering kali belum bisa mengendalikan emosi hanya karena pakai jilbab bella square yang tidak kunjung rapi, beliau harus menghadapi anak kecil yang tantrum hampir setiap hari tanpa ada rujukan dan tempat mengeluh seperti saat ini.
Maka, aku bersyukur saat ini masih diberi banyak kesempatan untuk banyak membaca hal-hal mengenai parenting seperti ini walau aku belum tahu kapan dan apakah akan punya anak atau tidak, serta membaca hal lainnya yang belum ku ketahui dengan mudah melalui benda digenggaman tangan.
Semoga Allah ridho atas segala hal yang telah ibu lakukan dulu, sekarang dan selamanya untuk anak-anaknya. Bukan hanya untuk ibuku tapi untuk semua ibu.
Untuk teman-teman yang sudah lebih dulu Allah berikan kesempatan sedang membersamai tumbuh kembang anak-anaknya✨️
Ibu selalu hebat apapun latar belakang kehidupannya♡ hebatnya tidak pernah pudarđź’–Allahumma baariklahum✨️
Jurnal terakhir yang aku baca
http://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/ners/article/view/395
Aku Fitri. Namaku adalah pemberian yang khusus diberikan oleh ibu, bukan tanpa alasan, tapi karena aku lahir di hari ketiga hari raya idul fitri. Katanya, lebaran itu selalu terasa spesial bukan hanya karena dirayakan sebagai hari kemenangan setelah berpuasa, tapi juga karena baginya hari itu adalah hari rayanya beliau sebagai ibu untuk pertama kalinya. Hihi<3

Komentar
Posting Komentar